Archive for pakan

Untung….. Dengan Teknik Pemberian Pakan Tepat

Ransum Ruminansia

Berbagai Jenis Pakan Ruminan

Fakta bahwa pakan turut menentukan hasil dari ternak, tidak dapat disangkal. Bahkan pelaku usaha  menghitung persentase nilai pakan dalam komponen “cost” cukup tinggi.  Realitas yang demikian haruslah dimanajemen dengan benar dan tepat sehingga memberikan hasil  optimal. Teknik pemberian pakan ternak dapat dikatakan mudah….tidak… susahpun….juga tidak. Sebuah kata bijak bahkan menyampaikan bahwa memberikan pakan ternak sebagian adalah seni, sebagian adalah ilmu dan sebagian adalah pengalaman.

Nilai seni lebih terasa pada  ternak ruminansia, mengingat istimewanya ternak ini. Bahkan banyak slogan bahwa ruminansia adalah pengolah limbah menjadi daging…….bahwa ruminansia sebagai pengubah bahan yang awalnya “zero” menjadi sebuah produk “numero uno”. Namun dalam teknis pemberian pakannya tidak dapat diberikan dengan sembarangan apabila hendak membuktikan slogan diatas.

Hijauan sebagai pakan yang lazim diberikan merupakan bagian keistimewaannya. Hijauan dalam hal ini adalah pakan berserat baik itu dari jenis rumput-rumputan (graminae)  maupun dari jenis kacangan (leguminosa). Seiring dengan berkembangnya sektor peternakan pakan hijau yang diberikan diperkaya dan dilengkapi dengan konsentrat. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Leave a comment »

Asupan Pakan (Bagus dan Cukup) Saat Sapih

Anak kambing / cempe pada masa awal, saat  masih menyusu bersama induknya maka perkembangan saluran cerna pengolah serat belum siap. Pada masa awal mereka  hampir sama dengan ternak lambung tunggal. Dimana asupan pakan dengan serat yang tinggi menjadi kendala saat dicerna. Praktis pada masa ini susu induk maupun susu tambahan menjadi menu utama pencernaannya hingga masa sapih.

Kondisi cempe pada masa awal s/d sapih menentukan kondisi mereka nantinya saat dewasa.  Dimana kondisi tumbuh dan perkembangan yang optimal terjadi dimasa ini terutama perkembangan tulang. Pertulangan yang sempurna akan mendukung perkembangan ternak saat dewasa nantinya. Hal ini  harus didukung dengan pakan yang baik dan tepat.

Pakan pada saat cempe disapih menjadi salah satu penentu tumbuh kembangnya, karena saat sapih susu induk tidak lagi didapatkannya. Cempe harus mulai mengikuti pola pakan induknya dan individu lain yaitu hijauan/ pakan berserat sebagai asupan pokok. Namun cempe pasca sapih tidak bisa serta merta langsung diberi asupan serat dalam jumlah banyak, mengingat lambung gandanya belum berkembang optimal.

Masa transisi ini cempe perlu mendapatkan pakan yang berkualitas baik dengan kandungan serat pakan sedikit sampai dengan cukup berserat. Kombinasi pemberian hijauan dan konsentrat yang tepat akan mendukung perkembangan rumennya.  Konsentrat dengan kandungan protein kasar minimal 16—18% dengan TDN (Total Digestible Nutrien) min 70% sebagai menu penguat (pemberian 1,5-2% BB) dan hijauan berserat dominan asal leguminosa/kacang-kacangan (pemberian 10% BB) sebagai pendukung perkembangan rumen, baik diberikan pada masa sapih.

Cempe  masa sapih yang relatif terpenuhi kebutuhannya akan menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan lebih baik pada bulan bulan berikutnya. Hal ini dibandingkan dengan cempe yang mendapatkan asupan pakan pas-pasan.

Sebagai peternak pengamatan dan evaluasi mutlak diperlukan untuk perbaikan dan perbaikan dikandangnya. Kami melakukan pengamatan pada 10 ekor cempe lepas sapih  dengan perlakuan ketersediaan konsentrat. Ada dua kelompok pengamatan cempe yaitu

  • Kelompok 1 —> 5 ekor cempe dengan rataan bobot badan lebih tinggi diberikan konsentrat sesuai jadwal pemberiannya.
  • Kelompok 2 —> 5 ekor cempe dengan rataan bobot sapih lebih rendah dengan pemberian konsentrat lebih sering s/d relatif ada terus.
Persentase Pertambahan Bobot Pada Cempe

Persentase Pertambahan Bobot Pada Cempe

Hasil pengamatan kami pada cempe kelompok 1 mengalami persentase pertambahan bobot badan lebih tinggi dibanding kelompok 2 apabila dibandingkan dengan bobot sapih. Berdasarkan pengamatan ini maka asupan pakan saat sapih sangat menentukan tumbuh kembang ternak pada masa selanjutnya.

 

Leave a comment »

Natural Dekomposer

Peternak Kambing-Domba masih banyak yang mindset nya belum berubah terkait pakan. Pemberian pakan masih mengacu pada apa yang ternak (Kambing-Domba)   “amat” sukai. Meski sudah menggunakan pakan pabrikan (konsentrat) sekalipun.

Padahal di dalam lembaran kertas yang menempel pada karung pakan sudah tertera jelas komposisi bahannya. Pun ketika kita coba ambil segenggam dan kita teliti satu persatu, akan ditemukan bahan-bahan  yang secara nalar umum tidak bakal diberikan pada kambing-dombanya. Sebut saja janggel jagung, kulit kacang tanah, kulit kopi, bagase, dll.
Kambing-domba sebagai natural dekomposer  memang pada dasarnya adalah herbivora, alias pemakan tanaman (dan produk turunannya). Artinya sebenarnya Kambing-Domba bisa dan mau diberikan semua jenis tanaman dan produk turunannya. Tinggal kitanya bisa apa tidak membentuk dan menyajikan tanaman dan turunannya tersebut untuk bisa dikonsumsi oleh kambing-domba.
Fix, mindset kita harus diubah dari pakan kambing-romba hanya yang disukai saja menjadi Kambing-Domba doyan semua jenis tanaman.

Kambing-domba doyan semua jenis daun, dan hanya 4 jenis daun yang Kambing-Domba tidak doyan.
Keinginan tidak ingin ribet dan repot, menjadikan peternak Kambing-Domba hanya memberikan yg ternaknya mau saja, misal diberikan daun nangka, sengon, lamtoro, rumput lapangan, rumput budidaya saja… Padahal dengan logika yang sama akan ditemukan bahwa perlakuan pemberian pakan yang seperti itulah yang membuat semakin ribet dan repot. Kontinyuitas bahan pakan seperti tersebut jelas tidak memadai, lahan juga tidak bertambah luas untuk tumbuhnya tanaman tersebut. Bersaing dengan sesama pencari tanaman tersebut sudah bukan keniscayaan lagi. Yang ujungnya adalah kekalahan harga jual ketika pada waktunya kesulitan tanaman pakan pada kemarau dan ketiadaan tanaman tersebut.
Bahan pakan yang tidak disukai ternak, artinya  ternak tidak langsung mau memakannya sedari dulu sudah tersedia dan jumlahnya banyak. Pada akhirnya banyak yang dilupakan, sehingga sifat gumunan muncul ketika ada yg mulai memanfaatkannya sebagai pakan ternak. Dengan pengelolaan dan pengolahan tertentu, jenis bahan pakan tidak disukai ternak bisa menjadi pakan, hanya membutuhkan langkah pengelolaan dan pengolahan supaya  Kambing-Domba  menjadi doyan dan suka.

Anggapan proses pengolahan pakan adalah menjadikan ribet sebenarnya tidak betul juga, justru dengan melakukan pengolahan bahan pakan peternak akan mampu menciptakan kemandirian dalam hal harga jual dan kontinyuitas pakan. Karena tidak akan lagi ada namanya kerepotan mencari pakan.
Yang perlu dipelajari adalah teknik dan cara yang harus dilakukan untuk menjadikan bahan pakan tidak disukai ternak tersebut menjadi bahan yang Kambing-Domba mau memakannya:

1.  Bahan dengan kandungan serat kasar tinggi (Lignin), dengan ciri fisik ulet tidak mudah putus/patah dengan langkah mekanik memperluas permukaan dgn chooping sesuai ukuran kesukaan kambing-domba. Jika dengan langkah ini saja kambing-domba sudah doyan berarti sudah bagus hanya dengan 1 langkah selesai. Langkah berikutnya ketika dengan chooping saja belum doyan, lakukan langkah fermentasi menggunakan bakteri yg berasal dari perut ruminansia yg sifat utamanya lignolitik. Jangan menggunakan bakteri selainnya.
2. Bahan yang beracun semisal dedaunan segar. Ya daun yang masih segar/baru petik mengandung antinutrisi/zat racun, semua jenis dedaunan ada racunnya dan bersifat spesifik. Makanya ulat pemakan daun Gamal tidak akan sampai dengan ulat pemakan daun jeruk.

Untuk jenis dedaunan/pepohonan yang memiliki antinutrisi/radun lakukan penghilangan racun dengan pemanasan (jemur atau rebus) dan atau pencampuran dengan bahan-bahan lain minimal 4 macam dedaunan. Sesuaikan dengan ukuran yang disukai ternak dengan dicacah, lalu campur-campur sebelum diberikan ke Kambing-Domba. Aman sentosa….
3. Pemberian atraktan, atau zat yg merangsang Kambing-Domba untuk doyan makan. Kambing-domba itu buta warna, jadi tidak akan peduli dengan warna tanaman. Yang mereka makan berdasar pada rasa dan bau. Asin, manis dan masam adalah rasa yang disukai Kambing-Domba.

Silakan pergunakan salah satu untuk menarik kesukaan makan pada pakan yang kita berikan . Manis dengan gula, asin dengan garam, masam dengan pengasaman, cuka, atau buah asam itu sendiri.
To be continue..,.
Demikian sekilas tentang kenapa beternak itu sudah ribet, maka jangan dibikin tambah ribet… See you next trip, kapten..!
#salamternak kapten…..
Lukman Farmer & Co.Peternakan Ruminansia, Konsultan & Pendampingan Peternakan

Cp. 081808153767 – 085640954548 (WA) IG: lukman_farmer

Leave a comment »

Feeds Freedom (kebebasan pakan ternak)

Indonesia, kepingan syurga yang berada di Bumi…
Maka nikmat manakah lagi yang engkau dustakan.
Bulan-bulan ini matahari sudah menuju Utara khatulistiwa, kemarau dan musim panas menjelang…

Sudah siapkah kita (peternak kambing domba) menghadapinya???
Hasil riset Walikota Bogor Aria Bima, yang disitasi Fahmi Thalib menyebutkan bahwa pemanfaatan barang atau bahan yang dibawa ke pasar induk (pasar tradisional) adalah hanya sebesar 30%. Yang artinya sebesar 70% sisanya adalah menjadi LIMBAH PASAR.
Sebuah angka yg cukup aduhai repotnya bagi pengelola pasar. Tapi bagi kita peternak angka 70% itu seharusnya adalah berkah, artinya tidak peduli dimana pun lokasi kandang kita maka dengan keberadaan sebuah pasar induk saja akan mampu menopang pakan ternak yang kita miliki.

Pasar induk/pasar tradisional adalah “gudang pakan” yg tidak pernah kehabisan bahan. Selama pasar tersebut ada, maka selama itulah bahan pakan yg kita butuhkan selalu tersedia.
Tidak ada lagi alasan tidak mau beternak karena tidak ada/punya lahan HPT dan atau tdk ada waktu utk cari pakan.

Yang perlu kita lakukan cukup hanya menginventarisir posisi dimana penjual bah, dimana penjual sayur, dan dimana posisi limbah² tersebut berada.

Modal Ngarit yang dibutuhkan adalah “muka tebal” alias berani malu, bertanya  dan meyakinkan pemilik limbah untuk bisa kita ambil berkala.

Selebihnya adalah feed freedom alias kebebasan pakan….
Tips & trik mengelola limbah pasar.

– pilah sumber pakan berdasar umur simpan (kadar air)

– dahulukan memberikan pakan yg umur simpannya pendek

– yg berumur relatif agak lebih lama bisa disimpan untuk esok atau lusa.
*i’ve done this for almost 7 years
#salamternak kapten…..
Lukman Farmer & Co.Peternakan Ruminansia, Konsultan & Pendampingan Peternakan

Cp. 081808153767 – 085640954548 (WA)Mail: 1. lukmanpeternak06@gmail.com ; 2. akhmadlukman@yahoo.com Site: binasatwamandiri.blogspot.com : lukmanpeternak.blogspot.com

Leave a comment »

Pakan Sapi Penggemukkan

Kendala lainnya dalam hal penggemukan sapi adalah bagaimana mendapatkan pakan ternak yang berkualitas dan tepat. Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Pakan diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang dikenal dengan istilah kereman. Konsumsi Bahan kering sapi adalah 3% bobot badan dan atau 10 % dari bobot badan untuk pemberian segar. Pemberian pakan dilakukan minimal 2 kali dalam sehari yaitu pagi dan sore dengan air minum adlibitum.. Target pertambahan bobot badan yang diharapkan adalah 0.7 – 0.9 kg/hari untuk jenis sapi local. Pada jenis sapi persilangan misal limosin dan sejenisnya maka target minimal yang harus diraih adalah pertambahan bobot badan minimal 1 – 1.3 kg/hari

Penggemukan Sapi Di Feedlot

Penggemukan Sapi Di Feedlot

Manajemen pemberian pakan yang baik perlu dipelajari karena merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas pakan yang diberikan. Pemberian pakan yang tidak memenuhi kebutuhan ternak akan merugikan. Manajemen pemberian pakan harus memperhatikan penyusunan ransum kebutuhan zat-zat untuk ternak yang meliputi jenis ternak, berat badan, tingkat pertumbuhan, tingkat produksi, dan jenis produksi (Chuzaemi,S dan Hartutik,1988).
Penelitian menunjukkan bahwa penggemukkan dengan mengandalkan pakan berupa hijauan saja, kurang memberikan hasil yang optimal dan membutuhkan waktu yang lama. Salah satu cara mempercepat penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat. Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan. Imbangan hijauan dan konsentrat yang digunakan adalah 20- 40% : 60 – 80%.

Hijauan Pakan Ternak

Hijauan Pakan Ternak

Hijauan pakan yang dapat diberikan berupa jerami padi dan rumput. Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang cukup besar jumlahnya dan belum sepenuhnya dimanfaatkan. Pakan ini tersedia banyak di berbagai wilayah. Kualitas awal pakan ini (jerami) rendah sehingga diperlukan pengolahan lanjutan untuk meningkatkan kegunaannya. Pengolahan yang dapat dilakukan misalnya amoniasi dan fermentasi. Hijauan basah dari rumput diberikan juga sesekali misal untuk malam hari saja.


Konsentrat pada tahap awal menggunakan konsentrat produksi pabrik yang berada diwilayah terdekat. Konsentrat dapat juga dibuat sendiri dengan mengoptimalkan pemakaian potensi limbah dilingkungan terdekat. Konsentrat sapi potong yang dipilih minimal dengan kandungan protein kasar 12%, bahan kering 88% dan TDN 65-70%. Langkah ini dilakukan dengan memperhatikan tingkat harga bahan baku diwilayah masing-masing. Penyusunan konsentrat sendiri akan dilakukan apabila secara ekonomis lebih murah dibanding konsentrat produksi pabrik.

 

Leave a comment »

Manajemen Pakan Induk

 

Manajemen Pemberian pada induk terutama ditujukan untuk menunjang agar fertilitasnya tinggi, menghasilkan produksi susu yang dapat memenuhi kebutuhan anaknya sehingga nantinya laju pertumbuhan anak menjadi optimal. Kebutuhan pakan induk tergantung pada fase fisiologisnya, apakah bunting, laktasi atau dalam posisi kering.

Baca entri selengkapnya »

Comments (1) »

Pakan Ruminansia (Ilmu Dasar Pakan)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pakan adalah semua yang dapat dimakan dan dicerna sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak. Ransum adalah sejumlah pakan yang terdiri dari satu atau lebih bahan pakan yang mencukupi kebutuhan ternak selama sehari semalam). Kebutuhan pakan ternak secara keseluruhan dipengaruhi oleh umur, bangsa, bobot badan, dan fungsi.

Pakan merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan.  Kekurangan pakan akan memperlambat pertumbuhan dan bila kekurangan pakan sangat parah akan menyebabkan ternak kehilangan bobot badan. Peningkatan konsumsi pakan akan mampu meningkatkan daya cerna pakan sehingga jumlah zat-zat gizi yang digunakan untuk produksi akan meningkat.

Pengukuran konsumsi pakan pada ternak biasanya berdasarkan bahan kering. Konsumsi bahan kering pada ternak dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu faktor pakan yang meliputi palatabilitas dan daya cerna, faktor ternak yang meliputi bangsa, jenis kelamin, umur dan kondisi kesehatan. Konsumsi bahan kering memegang peranan penting karena dalam bahan kering tersebut ternak memperoleh energi, protein, vitamin dan mineral .

Konsumsi bahan kering merupakan pembatas untuk dapat tidaknya dipenuhi kebutuhan ternak akan zat-zat pakan yang diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan produksi. Kebutuhan bahan kering untuk domba adalah berkisar antara 2-4 % dari bobot badan per hari. Konsumsi bahan kering menentukan tinggi rendahnya konsumsi bahan organik dan bahan anorganik. Bahan organik terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan vitamin.

Ternak membutuhkan energi untuk mempertahankan hidupnya dan berproduksi secara normal. Energi didapatkan dari hasil metabolisme zat-zat makanan dalam tubuh ternak itu sendiri. Energi sangat penting untuk hidup pokok, produksi dan reproduksi. Kekurangan energi akan menghambat pertumbuhan pada hewan muda dan kehilangan bobot badan pada hewan dewasa. Bila energi pakan tidak memenuhi kebutuhan, maka kebutuhan tersebut akan dipenuhi dengan membongkar timbunan lemak tubuh. Jika timbunan lemak tubuh sudah habis maka kebutuhan energi tersebut dipenuhi dengan membongkar protein tubuh.

 

PUSTAKA:

  • Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • Blakely, J. dan D.H. Bade. 1994. Pengantar Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh SGN Djiwa Darmadja).
  • Crampton, E.W. dan L.E. Harris. 1969. Applied Animal Nutrition. 2nd ed. W.H. Freeman and Company, San Fransisco.
  • Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
  • Lubis, D.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan ke-2. PT. Pembangunan, Jakarta.
  • Siregar, S. B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta
  • Sutardi, T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Jilid I. Departemen Ilmu dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor (Tidak diterbitkan)
  • Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosukojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

 

Leave a comment »