Archive for Hijauan Pakan

Hay Alternatif Pengawetan, Selain Silase

Pakan sebuah hal yang perlu diperhatikan, diperhitungkan dan dipersiapkan secara matang dalam usaha peternakan. Pada peternakan ruminansia dimana kebutuhan pakan berserat relatif besar dan umumnya dipenuhi dari penyediaan hijauan makanan ternak. Permasalahan pemenuhan pakan ini muncul pada saat musim kemarau, dimana musim ini hijauan tidak tumbuh dengan baik sehingga penyediaannya berkurang. Bertolak belakang pada musim penghujan, saat hijauan makanan ternak melimpah. Kondisi ini menuntut pelaku usaha ternak untuk kreatif dalam penyediaan hijauan saat kekurangan. Solusi yang paling logis adalah menyimpan sekaligus mengawetkan hijauan makanan ternak saat melimpah.

hijauan pakan

Seperti yang sudah diketahui bersama upaya pengawetan hijauan makanan ternak dapat dilakukan dengan dua cara yaitu awetan segar-silase dan awetan kering-hay. Kali ini akan kita bahas hay, yaitu pengawetan yang dilakukan dengan melakukan pengeringan. Hay adalah hijauan makanan ternak yang sengaja dipotong dan dikeringkan baik dengan sinar matahari maupun dengan panas buatan sehingga kadar air hijauan menjadi 10-15%. Pada kadar air ini diharapkan aktivitas organisme yang berada pada pakan tidak beraktivitas sehingga hijauan menjadi awet.

Pembuatan hay paling pas dilakukan diakhir musim penghujan, dimana pada saat itu intensitas matahari sudah cukup tinggi dan hujan masih ada sehingga memungkinkan rumput masih tumbuh. Rumput atau hijauan yang baik diawetkan sebagai hay adalah rumput dengan batang kecil dan rumput yang dipotong menjelang berbunga.

Rumput atau hijauan yang sudah dipotong langsung dijemur, baik diarea pemotongan maupun dipindahkan ke tempat lain yang terkena sinar matahari. Saat menjemur perlu diperhatikan ketebalan hamparan diusahakan tidak terlalu tebal. Saat proses penjemuran dilakukan juga proses membolak-balikkan rumput agar hijauan kering merata. Saat sore hari atau menjelang hujan sebaiknya hamparan rumput tadi dikumpulkan dan dinaungi, pada hari berikutnya proses penjemuran diulang kembali.

Target penjemuran ini adalah kadar air hijauan makanan ternak diangka 10-15%, kondisi ini biasanya dapat dicapai dalam 3-5hari penjemuran. Indikator tercapainya kadar air ini adalah apabila ditimbang secara berulang sudah tidak ada penyusutan berat hijauan dan kondisi gesekan hijauan yang relatif nyaring. , bau harum khas rumputCiri ciri hay yang baik adalah berwarna relatif kehijauan, kering tapi tidak mudag patah, tidak berjamur dan tidak tercampur dengan pollutan. Selanjutnya hay dapat disimpan digudang pakan dan atau bisa dipress menjadi bentuk balokan yang padat. Pemberian hay pada ternak ruminansia dapat diberikan secara langsung sepanjang hari. Pemberian 1kg hay setara dengan pemberian 7 kg rumput segar. Apabila ternak kurang bernafsu makan maka perlu dilatih dengan pemberian sedikit demi sedikit. Kombinasi dengan pakan penguat atau pakan konsentrat perlu menjadi pertimbangan apabila kualitas hay masih kurang.

Iklan

Leave a comment »

Bank Pakan, Solusi Tuntas Pakan

silase drum

Indonesia terkenal dengan julukan negara agraris, dimana pertanian masih menjadi andalan dalam sendi kehidupan. Hasil pertanian sudah pasti menghasilkan limbah-limbah, terkadang belum dimanfaatkan. Fakta ini sebenarnya adalah potensi sumber bahan pakan ternak ruminan.

Limbah hasil pertanian ,perkebunan dan agroindustri cukup tersedia di Indonesia, namun potensinya belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak.Dapat diartikan sebagai bahan yang dibuang. Beberapa limbah antara lain jerami padi, tebon jagung, pucuk tebu, rendeng kedelai dll.

silase

 

 

Limbah –limbah pertanian, tersebut berpotensi  tetapi ada beberapa kekurangan

  • Palatabilitas rendah
  • Serat kasar tinggi
  • Daya cerna rendah
  • Tidak awet disimpan

Kondisi bahan yang demikian ini memerlukan kreatifitas kita untuk mengolah.

Kondisi lebih ektrim sering terjadi dimusim penghujan, dimana hijauan pakan ternak melimpah serta sangat kurang dimusim kemarau. Kondisi dan fakta ini menuntut usaha kita menampung dan menyimpan hijauan saat melimpah. Bank pakan menjadi salah satu solusi pengolahan pengawetan hijauan. Pengawetan yang familiar adalah silase.

silase

Proses silase (ensilage) terjadi dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen) sehingga prosedur yang dikerjakan harus dapat memacu terjadinya kondisi anaerob dan asam sesingkat mungkin

  • Hijauan awet dlm kondisi asam (pH< 4)
  • Asam yg diharapkan adl ASAM LAKTAT
  • Bakteri asam laktat dapat berkembang bila cukup air (KA ± 65%) & karbohidrat, dalam kondisi an-aerob (hampa udara)

Proses ini mengacu pada:

1.Biasanya diilakukan pada bahan kecernaan rendah biasanya serat tinggi

2.Dilakukan pada saat bahan melimpah

3.Pemilikan ternak banyak,

4.Bahan baku mudah rusak, mengawetkan

5.Kandang diarea pemukiman

Bahan baku sebaiknya berasal dari tumbuhan atau bijian yang segar yang langsung di dapat dari pemanenan, jangan yang telah tersimpan lama

Pemotongan / pencacahan bahan : ukuran sebaiknya sekitar 4 – 5 cm

Jika hendak menggunakan bahan tambahan, maka taburkan bahan tambahan tersebut kemudian aduk secara merata, sebelum di masukan dalam silo

Bahan tambahan yang diberikan merupakan bahan yang mengandung karbohidrat yang siap diabsorpsi oleh mikroba, antara lain :

ACUAN:

Molase (tetes tebu)         : 2,5 kg /100 kg hijauan.

Onggok   : 2,5 kg/100 kg hijauan.

Jagung   : 3,5 kg/100 kg hijauan.

Dedak halus        : 5,0 kg/100 kg hijauan.

Ampas sagu           : 7,0 kg/100 kg hijauanC

aditif

Silase yang baik adalah silase yang disukai ternak.Silase setelah dikeluarkan dari silo sebaiknya langsung diberikan pada ternak, atau bila dijumpai bau menyengat dapat diangin-anginkan sebentar (selama tidak busuk)

Seringkali ada ternak yang tidak suka silase, biasanya kondisi ini disebabkan belum terbiasa mengkonsumsi silase à dengan latihan antara 2 sampai 3 hari umumnya konsumsi ternak dengan silase berjalan normal.

Anda tertarik….kita jual dengan sistem peminjaman drum, seperti sistem gas LPG

BANK PAKAN #Bersama Ben Berkah

File tentang pengolahan bisa didownload disinidisini

 

Comments (5) »