Pengamatan Kesehatan Ternak

Ternak sehat dapat diamati dari tingkah lakunya baik dari jarak dekat maupun jarak jauh. Tingkah laku ternak sehat ditunjukkan dengan kelincahan, kegesitan gerak dan tingkah laku makan/ruminasi. Ternak yang sehat menggambarkan gerakan yang aktif, sikapnya sigap selalu sadar dan tanggap terhadap perubahan situasi sekitar yang mencurigakan. Sudut matanya bersih tanpa adanya perubahan warna diselaput lendir dan kornea matanya. Ekor selalu aktif mengusir lalat. Kulit bulu halus dan mengkilat, pertumbuhan bulu merata dipermukaan tubuhnya. Secara fisik, ternak sehat dinilai dari frekuensi pernafasannya yang normal, antara lain untuk ternak kuda 8-10 kali/menit, sapi 10-30 kali/menit, domba dan kambing 10-20 kali/menit. Suhu tubuhnya juga berada diambang normal, yaitu kuda 38 0C; sapi 38,5 0C; kerbau 38,2 0C; dan domba 39 0C.

Pemeriksaan umum hewan penderita penyakit dimulai dari jarak yang tidak menganggu ketenangan dan sikap ternak. Seringkali ternak mengalami kegelisahan karena langsung didekati saat memeriksa. Pemeriksaan dari jauh harus dilakukan dari berbagai arah tubuh ternak. Tingkah laku ternak perlu diperhatikan, dalam keadaan berdiri atau tiduran, adanya rasa sakit yang ditandai dengan cara berdiri yang tidak bebas, pembagian pembebanan berat badan yang tidak merata dan sikap kaku. Posisi abnormal lain yaitu ternak berguling, menendang perutnya sendiri yang menunjukkan sakit dibagian perut. Ternak sakit yang sedang makan, ditunjukkan dengan kelainan cara mengunyah pakan, pengunyahan secara intermiten disebabkan rasa sakit saat itu. Pakan yang jatuh atau keluar lagi dari mulut dapat dikarenakan gangguan syarat pada mulut. Tingkah laku lain yang harus diperhatikan yaitu kemampuan lidah dan bibir dalam mengambil pakan.

Pemeriksaan pada ternak yang diduga sakit hendaknya dimulai dari pengamatan jarak jauh baru kemudian diperdalam dengan pengamatan dekat. Keserasian dan kesimetrisan pada kedua sisi tubuh perlu menjadi perhatian. Pemeriksaan simetri terbaik dilakukan dari sisi depan dan belakang, sedang keselarasan dilihat dari samping kiri dan kanan. Pemeriksaan terhadap wilayah tubuh ternak, kulit bulu dan kemungkinan adanya lesi/luka dan parasit. Kulit yang longgar dileher saat dicubit untuk menilai tingkat dehidrasi tubuh.

Wilayah kepala dan leher diperiksa konformasi dan simetrinya. Mata diperiksa pada kemampuan melihatnya dengan menggerakkan tangan pemeriksa. Gerakan mata abnormal (nystagmus) dan juling (strabismus) ditemukan pada penyakit syaraf. Pemeriksaan lubang hidung dilakukan terhadap adanya leleran hidungberbau tidak wajar, lesi dan pendarahan serta aliran udaranya. Saliva yang berlebihan dan berbau buuk menunjukkan adanya benda asing didalam mulut. Pemeriksaan palpasi dilakukan terhadap otot-otot pengunyah dan kelenjar limfe.

Pemeriksaan fisiologis dilakukan dengan palpasi, inspeksi visual dan penciuman disamping pendengaran dengan cara auskultasu dan perkusi. Kelainan konsistensi jaringan seperti busung dapat ditentukan dengan palpasi jaringan bawah kulit dengan tekanan jari yang tidak segera kembali ke bentuk asli. Perkusi bersama auskultasu dapat digunakan untuk menentukan diagnosa pasti terhadap jaringan yang berisi gas dalam rongga perut. Apabila terdapat gas maka terdengar suara nyaring atau ‘ping”. Auskultasu yang terbaik dengan menggunakan stetoskop. Pegukuran suhu tubuh ternak biasanya diukur melalui rektum. Termometer harus berada sedikitnya 1 (satu) menit dalam rektum. Pulsus atau mengetahui detak jantung ditentukan dari arteri doiekor atau muka pada ternak, paling mudah dengan uaskultasi jantung

Pencegahan penyakit yang terjadi pada ternak dapat dilakukan dari awal pemeliharaan sampai dengan ternak dewasa. Pemberian kolostrum dan perawatan khusus pada awal sejak kelahiran perlu mendapat perhatian; karena persentase kematian tertinggi pada masa itu. Penempatan anak yag terpisah dari induk akan mengurangi penularan penyakit dari ternak yang lebih tua serta penempatan pada ternak yang baru masuk kandang. Penempatan pada kandang yang leluasa gerak dan perawatan kebersihan kandang terutama lantai juga dapat mencegah penyakit. Perawatan bulu dan kuku serta pemberian obat cacing yang teratur perlu dilakukan. Pencegahan penyakit khusus dengan melakukan vaksinasi yaitu menjaga kekebalan tubuh, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan kesehatan dan kondisi ternak. Kebersihan kandang dan lingkungan kandang, pengelolaan tata laksana reproduksi serta tata laksana pakan turut serta menyumbang dalam pencegahan penyakit.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: