Ketika Duri Daging Lebih Sakit Dari Sayatan Pedang

Seorang panglima perang pastilah tak takut dengan pedang saat peperangan. Dia hadapi tajamnya pedang musuh dengan senjatanya kalau perlu dengan kulitnya...Keperkasaan seorang prajurit yang tak perlu diragukan lagi.

Nyaris tak ada lemah dalam medan laga, semua dipersiapkan dengan teliti dan matang. Diujikan untuk meminimalkan luka yang berakibat kematian. Kalau terpaksa terluka oleh pedang musuh justru mengobarkan semangatnya untuk lebih menyerang. Sayatan pedang akan membuatnya maju. Darah tak terasa mengalir apalagi perih luka. Tapi hanyalah menyerang dan menghantam…

Panglima adalah manusia biasa dengan kehidupan sosial yang tak hanya mengayunkan pedang dengan tangan tapi hati...Pada kehidupan ini pedang bukanlah satu-satunya senjata yang mematikan. Suara, pemikiran bisa menjadi racun yang mematikan. Kekuatan bukan yang utama; pengertian, pemahaman dan pengejawantahan adalah pamungkasnya senjata di laga sosial.

”Kamu tidak memahami perasaan, ku!” sebuah kata yang sering dilontarkan kala ia terpojok. Bisa jadi senjata saat itu…(ungkapan yang keluar dalam hati) Saat dimana ketidakcocokan, ketidaksesuaian, dan perbedaan mengemuka tetapi terlalu berat untuk meninggalkan. Sendiri belumlah menjadi pilihan yang bijak.

Ketika itulah duri lebih sakit dari pedang…..jangan menganggap duri itu dari makhluk lain tapi…”Lihatlah diri kitapun berduri!” Hati-hati dengan duri itu….pergunakan dengan bijaksana………………

duri(Parlan Raharjo dalam medan laga)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: