ENTREPRENERSHIP vs MAHASISWA

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia menyebabkan banyak industri besar tumbang. Kenyataan tersebut membuka mata pemerintah Indonesia terhadap ketimpangan struktur usaha (industri) yang terlalu memihak pada industri besar. Pada era reformasi (pasca krisis) terjadi kondisi sebaliknya, yaitu terjadi euphoria berkaitan dengan pengembangan usaha kecil dan menengah. Banyak dana yang dicurahkan untuk pengembangan sektor ini.

Itulah salah satu landasan pacu masyarakat untuk memulai sebuah usaha baru untuk dikelola sendiri yang kemudian dinamakan berwirausaha. Wirausaha merupakan istilah yang diterjemahkan dari kata entrepreneur. Dalam Bahasa Indonesia , pada awalnya dikenal istilah wiraswasta yang mempunyai arti berdiri di atas kekuatan sendiri. Definisi lain tentang wirausaha adalah orang yang mampu melakukan koordinasi, organisasi dan pengawasan. Seorang wirausaha adalah orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan dan membuat keputusan-keputusan tentang lingkungan usaha, mengelola sejumlah modal dan menghadapi ketidakpastian untuk meraih keuntungan. Wirausaha, kata Jose Carlos Jarillo-Mossi, adalah seseorang yang merasakan adanya peluang, mengejar peluang-peluang yang sesuai dengan situasi dirinya, dan percaya bahwa kesuksesan merupakan suatu hal yang dapat dicapai.

Banyak alasan yang melatarbelakangi mengapa seseorang mau terjun sebagai seorang wirausahawan) orang tersebut lahir dan atau dibesarkan dalam keluarga yang memiliki tradisi yang kuat di bidang usaha (Confidence Modalities), 2) kondisi yang menekan, sehingga tidak ada pilihan lain bagi dirinya selain menjadi wirausaha (Tension Modalities), dan 3) seseorang yang memang mempersiapkan diri untuk menjadi wirausahawan (Emotion Modalities).

Berwirausaha terlihat sulit, Konon 70 persen bisnis skala kecil (bisnis rumahan, bisnis perorangan, industri rumah tangga) gagal di tahun pertama operasinya. Sisanya yang 30 persen, terseok-seok di tahun kedua. Dari 30 persen tadi, hanya 10 persennya saja yang selamat memasuki tahun ketiga. Berikutnya hanya 5 persen yang beruntung bertahan hidup sampai tahun kelima. Nah, yang benar-benar berumur panjang dan sukses, konon tak sampai satu persen dari sisanya.

Harus ada program yang terpadu untuk menanamkan jiwa wirausaha sejak dini. Sedikit sekali prosentase dari mereka yang ingin menjadi wirausaha. Penyebabnya cukup beralasan yaitu kultur budaya dimana mereka lebih memilih profesi yang relatif “tanpa resiko”, seperti ABRI atau bekerja di perusahaan.

Pendidikan tinggi sudah berupaya membekali mahasiswanya dengan memberikan Mata kuliah kewirausahaan, namun hal ini dirasa tidak cukup karena mereka tidak dilengkapi dengan praktek berwirausaha akibatnya ilmu yang didapat hanya menjadi pelengkap di gudang ilmu masing-masing. Mahasiswa merasa sangat memerlukannya lagi pada saat mereka lulus kuliah mereka bingung karena sudah pontang –panting mengirimkan lowongan pekerjaan namun tidak mendapatkan panggilan. Pada saat itulah jiwa wirausaha timbul lagi.

Seorang Mahasiswa mencoba membekali dirinya dengan ertreprenership dengan cara mengikuti pelatihan. Dia merasa jiwa wira usaha belum bisa ditimbulkan dari bangku kuliah. Pilihan ini ditempuhnya karena melihat realitas teman-temannya yang sudah lulus dimana mereka sangat tergantung pada info lowongan pekerjaan di koran maupun di kampus. Dengan niat untuk membuka usaha tanpa tergantung pada lowongan itulah awal ssemangatnya mengikuti pelatihan entreprenership.

Langkah salah satu mahasiswa tersebut ternyata mendapat sambutan yang besar tatkala temannya dilingkungan kampusnya tahu. Dari sini tersirat bahwasanya mereka dan kita punya jiwa entreprenership yang membedakan Cuma keberanian untuk memulai dan berani …….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: