Ibu adalah Sang waktu

Ibu adalah Sang waktu Seorang anak kecil bercerita kehidupannya di masa silam. Buah perkawinan rakyat desa, dipelosok Jawa. Memori masa lalunya sangatlah minim. Terlahir dari orang tua sederhana. Rumah bambu yang semi permanen menjadi naungnya Didepan rumah, sebuah tenda besar berwarna coklat tua berdiri kokoh pada jalan yang tepat berada dipinggir sungai. Banyak kursi tertata rapi dibawahnya. Ada hajatankah (tanya si anak dalam hati). Ternina bobokkan oleh sang paman hari yang ramai itu terlewat begitu saja. Si anak tidak sempat bertanya kemana Ibu?, kemana Bapak? Seberkas kenangan yang bisa dimunculkan dimasa kini. Bagai mesin waktu yang melewati lorongnya malam telah menghampiri. Entah ada apa, pada malam yang gulita diajaklah ia oleh pamannya. Berjalan-jalan mengelilingi sebuah kota kecil didaerah tersebut. Walau listrik belum merata tetapi kota tersebut tampak gemerlap. Banyak lampu neon yang bersinar, pemandangan ini dilihat sepanjang perjalanan. Sepeda onthel yang menjadi saksi itu kini telah usang. Indah benar tempat ini….gemerlap (decak kagum Si Anak) Lima tahun berselang kejadian itu belum terungkap. Ada apa sebenarnya? Si Anak tumbuh dengan layaknya anak desa. Bersekolah dari TK hingga SD. Anak kecil mana yang dapat lepas dari dekapan ibu, belaian lembutnya. Tak ada wanita lain yang bisa menggantikan peran psikologisnya (kalaulah hanya sekedar fisik BISA). Kemanjaan, kenakalan dan watak meminta perhatian menonjol padanya. Sebuah pelampiasan tuk mengisi kehampaan yang tak diketahuinya. Hanya pertanyaan, mana ibu? (yang tak dapat dijawab si Bapak) Belum waktunya dia tahu……………… (pikir si bapak) Waktu…..ya sang waktulah yang mengemuka Pertanyaan sederhana yang menggunung, mengeras, membatu yang harus mendapatkan jawab. Waktu tersayang tak mengelak lagi. Si anak bertanya, ”Pak, mana ibu?” bukan jawaban yang meluncur dari bapak Diajaklah ia ke sebuah pinggiran desa yang disana banyak rumah-rumah (anehnya rumah itu kecil). Begitu masuk komplek tempat itu dicarilah sebuah bangunan kotak berwarna biru yang tanpa tulisan. ”inilah Ibumu….?’” Apa.??..leluconkah ini (teriaknya dalam batin) Penjelasan sambil bersandar pada bangunan rumah kecil didengar. Ya….ini adalah ibu kandungmu. Ibu sudah MENINGGAL NAK..! ibumu terkena serangan kangker ganas, ibumu tidak terselamatkan. Penjelasan singkat yang diterimanya sudah cukup menjawab pertanyaannya. Menangis dan menangis………..respon si kecil atas pernyataan sang Bapak. Sejak saat itu kalau ada masalah…si Anak pasti dapat dengan mudah ditemukan di tempat itu… Ya..ternyata tempat tersebut adalah kuburan masyarakat desa (dahulu masih ada struktur berupa cungkup=rumah kecil jawa) Rangkaian kejadian masa silam mulai terbentuk….jadi waktu didepan rumah banyak kursi pada siang itu adalah hari meninggalkan sang Ibu dan malam waktu ia diajak jalan-jalan sebagai penghibur sekaligus pengalih perhatian. Pengalih yang kebablasan hingga memori wajah tentang ibu tidak terekam. Kehangatan peluk ibu yang tak terasa. Waktu yang membesarkannya…waktu yang mendidiknya dan waktu pula yang menjaga mainnya. Waktu telah menjadi IBUnya. Bagaimana bentuk kasih sayang ibu, bagaimana manjanya bersama ibu, bagaimana??? (banyak pertanyaan lain tentang ibu yang muncul). Jawabannya adalah rasa yang tak pernah terasa Satu rasa yang terekam saat si anak sakit pasti si Ibu datang menjenguk…mengajaknya memutari rumah….ibu aku merindumu. Kasih sayang seorang yang telah melahirkan manusia ke dunia tak bisa digantikan perempuan manapun, sebaik apapun, namun kasih sayang ibu senantiasa mengalir melalui waktuNYA. Ibu kini anakmu sudah dewasa Ibu anakmu masih merindu Korbankan nyawamu, hanya untuk ananda Ibu tersenyumlah…disana…. Ibu…. melalui sang waktu aku rasakan kasihmu Doa anakmu takkan putus…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: