Burung Puyuh dan Produktivitasnya

Burung puyuh yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jenis Coturnix coturnix japonica yang berasal dari Jepang sehingga sering disebut dengan Japanese Quail (Rasyaf, 2002b). Burung puyuh termasuk dalam class Aves, ordo Galliformes, famili Phasianide, genus Coturnix dan species Coturnix coturnix (Nugroho dan Mayun, 1990). Jenis kelamin burung puyuh dapat dibedakan berdasar warna bulu setelah berumur 3 minggu (Ensminger, 1992).  Puyuh jantan mempunyai bulu berwarna coklat muda pada bagian atas leher dan dada, sedangkan betina memiliki warna coklat lebih terang pada leher dan dada bagian atas (Listyowati dan Roospitasari, 2000). Bobot badan burung puyuh betina dewasa berkisar 120 – 160 g dan burung puyuh jantan berkisar 100 – 140 g. Dewasa kelamin dicapai pada umur 5 – 6 minggu dan dewasa tubuh dicapai pada umur 50 hari (Nugroho dan Mayun, 1990).

Menurut Woodard et al. (1973) yang disitasi oleh Rasyaf (2001) bahwa puncak produksi telur dicapai pada umur 12 minggu dengan produksi 70%. Nugroho dan Mayun (1990) berpendapat bahwa puncak produksi telur rata-rata dapat mencapai 78% dan terbaik 80,2% dengan pemberian ransum yang mengandung protein 24% pada periode grower dan 20% pada periode bertelur.

Menurut National Research Council (1994) dan Pond et al. (1995) ransum burung puyuh layer mengandung protein kasar 20%, energi metabolis 2900 Kkal/kg, asam linoleat 1%, vitamin D3 1100 IU/kg, kalsium 2.5%, phosphor tersedia 0.55%, lisin 1.15% dan metionin 0.45%. Asam amino lain yang dibutuhkan puyuh antara lain arginin 1.26%, glisin dan serin 1.17%, histidin 0.42%, isoleusin 0.9%, leusin 1.42%, metionin dan sistin 0.76%, fenilalanin 0.78%, fenilalanin dan tirosin 1.40%, threonin 0.74%, triptofan 0.19% dan valin 0.55%. Rasyaf (2002b) menyatakan bahwa rata-rata konsumsi burung puyuh dewasa adalah 17,8 g/ekor/hari dan dapat mencapai 20 g/ekor/hari bila lebih dari             5 minggu. Sainsbury (1992) berpendapat bahwa konsumsi Coturnix coturnix japonica        ± 25 g/ekor/hari.

 

 

 

PUSTAKA :

v     Ensminger, L. 1992. Poultry Science. 3rd Ed. The Interstate Printers and Publishers Inc., Danville – Illinois.

v     Nugroho dan I. G. K. Mayun.  1990.  Beternak Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica).  Eka Offset,  Semarang.

v     Pond, W.G., D.C. Church dan K.R. Pond. 1995. Basic Animal Nutrition and Feeding. 4th Ed. John Wileey and Sons. Inc., USA.

v     Rasyaf, M.  2001.  Memelihara Burung Puyuh. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

v     Rasyaf, M.  2002a.  Penyajian Makanan Ayam Petelur.  Cetakan ke-6.  Penerbit Kanisius,  Yogyakarta.

Rasyaf, M. 2002b.  Memelihara Burung Puyuh.  Penerbit Kanisius,  Yogyakarta

4 Tanggapan so far »

  1. 1

    Winarno said,

    Apa nggak kegedean angka ransumnya,bila segitu telurnya pasti kecil.Pakan harus sesuai suhu di peternakan.

  2. 2

    ade djulardi said,

    Hasil penelitian saya bahwa pemberian ransum dengan kandungan protein 20 % dan 2800 kkal/kg menghasilkan konsumsi rata-rata 21 g/hari dengan konversi rata 2 dan produksi telur 80 %.

    • 3

      soegeng said,

      yups…emang bener yang ade sampaikan untuk layer segitu..

      • 4

        yura said,

        hebat banget ?
        gw ja konversi smpek 4. kalo produksi seh bisa segitu. w pake puyuh umur 60-90 hr.
        punya standar produksi ta. bisa dikirim+sumberx


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: