Harga Pakan Naik, Peternak Itik Pilih Boro

BREBES – Harga pakan itik di Kabupaten Brebes naik dalam tiga minggu terakhir. Akibatnya, sejumlah peternak memilih boro (merantau bersama itik-itiknya dan membiarkan unggas itu hidup di sawah orang lain).

Kosim, seorang peternak itik di Desa Limbangan Wetan, mengatakan kenaikan harga pakan itik terjadi setelah harga BBM dinaikkan oleh pemerintah pada awal Oktober lalu. Diperkirakan, biaya angkut pakan ikut naik.

Makanan itik terdiri atas bekatul, loyang (kerak nasi yang dikeringkan), dan ikan laut. Bekatul dan ikan diperoleh dari daerah Brebes, sedangkan loyang dibeli dari luar kota, seperti Cirebon dan Purwokerto.

Menurut Kosim, kenaikan harga pakan itik berkisar antara 28 perser hingga 71 persen. Harga ikan naik dari Rp 25.000 menjadi Rp 50.000 per keranjang (satu keranjang sekitar 25 kilogram).

Sedangkan harga loyang naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.500 per kilogram dan harga bekatul naik dari Rp 800 menjadi Rp 1.000 per kilogram. Kenaikan tersebut dirasa sangat memberatkan para peternak itik.

Pasalnya, meskipun harga pakan ternak naik, harga jual telur tetap sama. Harga jual telur saat ini berkisar antara Rp 600 hingga Rp 650 per butir, bergantung pada besar kecilnya ukuran telur.

Yang lebih memprihatinkan, produksi telur itik sekarang tidak maksimal, yakni antara 60 persen hingga 70 persen dari jumlah seharusnya. Dari 670 itik yang dia pelihara, setiap hari hanya dihasilkan sekitar 400 butir telur.

Tidur di Kandang

Dijelaskan, pada musim penghujan seperti sekarang itik tidak dapat berproduksi optimal. Pada musim itu sinar matahari kurang, sehingga suhu udara menjadi dingin.

Petir yang bisa mengurangi produksi. Menurutnya, itik akan berproduksi dengan baik pada musim kemarau, yaitu sekitar Mei hingga Desember

Meskipun produksi telur tidak maksimal, pakan yang diberikan tidak boleh dikurangi. Dalam sehari, dia membutuhkan 30 kilogram bekatul, 50 kilogram loyang, dan 2,5 keranjang ikan untuk itik-itiknya.

Akibatnya, keuntungan yang diperoleh sangat tipis. Padahal, tenaga yang dikeluarkan banyak. Bayangkan, untuk merawat itik agar tetap bertelur dengan teratur dan baik, dia tidak jarang harus tidur di kandang itik pada malam hari.

Amir, peternak yang lain, mengatakan kenaikan harga pakan mempersulit posisi peternak itik. “Apabila harga pakan terus tinggi, para peternak itik pasti rugi,” katanya.

Dijelaskan, untuk mengantisipasi kenaikan harga pakan tersebut, banyak petani yang memilih boro. Mereka membawa itik-itik ke daerah lain yang sedang panen padi. Di sana, mereka membuat kandang darurat dan bertahan untuk beberapa waktu.

Pada pagi hari, itik dibiarkan hidup di alam bebas agar bisa memakan biji padi yang rontok saat dipanen. Pada sore hari, itik-itik kembali dimasukkan ke kandang darurat.

Telur yang dihasilkan dikumpulkan di tempat tersebut dan kemudian diambil oleh pembeli. Dengan boro, peternak tidak perlu memberi makan itik dengan makanan buatan pabrik, sehingga keuntungan yang diperoleh lebih besar(Suara Merdeka060208)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: