Harga Bahan Baku Naik

Fenny Firman Gunadi, sekjen Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT) berkomentar, “Kalau bicara cost driven (harga ditentukan oleh biaya produksi – red) memang seharusnya naik!”.  Fenny mengelak kenaikan ini menguntungkan feedmill (pabrik pakan). Lanjut dia, alih-alih mencari untung lebih, fenomena naiknya harga pakan tak lebih sekedar upaya agar feedmill tetap bertahan dan “terus bernafas”.


Harga naik lantaran harga bahan baku pakan yang melejit belakangan ini. Sebut Fenny, awal Desember harga Meat Bone Meal (MBM) mencapai 620 USD/ton, Dedak Rp 1700/kg di wilayah Sumatera, Corn Gluten Meal (CGM) hingga 680 USD /ton, Soy Bean Meal (SBM) 440 USD/ton dan Crude Palm Oil (CPO) Rp 7400/kg.
Dan unsur terpenting yang juga belum lepas dari minimnya kuantitas adalah jagung. Kondisi sekarang, material yang menempati porsi tak kurang dari 50 % komponen penyusun pakan ini, sebagian masih impor. Dampaknya, situasi apapun yang yang terjadi di negara-negara produsen jagung akan berimbas ke negara importir, termasuk Indonesia.
Desianto Budi utomo, Vice President Feed Technology PT Charoen Pokphand Indonesia, dalam diskusi Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) beberapa waktu lalu di Cibubur-Jakarta, menyebut lima negara besar produsen jagung dunia. Amerika, China, Brazil, Mexico dan Argentina. Dan Amerika adalah sumber utama jagung kebutuhan feedmill Indonesia. Celakanya, saat ini negara Paman Sam tersebut sedang gencar memproduksi biofuel (bahan bakar nabati) dengan jagung sebagai bahan baku utama. Tak pelak, jumlah jagung yang selama ini diekspor mencapai 68% dari total produksi jagung Amerika menjadi berkurang dan diperebutkan. Alhasil harga pun melonjak (Tabel).
Tak hanya terkendala di bab jumlah. Pengenaan bea masuk (BM) jagung sebesar 5 % per kg dituding Fennysebagai masalah yang semestinya tidak ada. Meski “hanya” 5 %, nilai ini signifikan pada harga pakan. Dimisalkan Fenny, jika harga jagung terhitung Rp 2000/kg, maka BM 5% bernilai Rp 100. Yang tidak bisa dilupakan, 50 % dari total komposisi pakan adalah jagung. Artinya nilai Rp 100 ini akan menambah harga pakan sebesar Rp 50. “Ini angka yang tidak sedikit bagi peternak. Mahal!” ujar Fenny sengit.
Terpisah, Djajadi Gunawan, Direktur Non-ruminansia, Ditjennak kepada TROBOS berujar, “Soal penghapusan BM jagung dikaji dengan banyak aspek”. Satu hal, kata Djajadi, jangan sampai petani jagung dirugikan dengan adanya penghapusan BM. “Pemerintah sedang gencar menggalakkan menanam jagung. Khawatir nantinya produksi melimpah. Jika jagung impor masuk tanpa BM, maka harga jagung lokal bisa jeblok. Jadi kesemua itu perlu dikaji!” tegas Djajadi.


( TROBOS  2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: